Sabtu, 21 April 2007

TIDUR pun bersama JENAZAH

Tidur berimpitan ibarat tumpukan sarden atau harus tidur menggelantung bak kelelawar di bagian atas kamar tahanan ternyata hanya sebagian kecil nestapa penghuni lapas. Tidak jarang mereka ternyata tidur sekamar dengan mayat.

"Tadinya saya tidak tahu kalau teman sekamar itu meninggal. Tahunya pagi saat bangun tidur, dia diam saja. Enggak tahunya sudah meninggal...," ujar seorang tahanan yang dititipkan ke Lapas Pemuda Tangerang, pekan lalu.

Jelas tidak ada orang bersedia tidur sekamar dengan mayat, tetapi tak ada jalan untuk menghindarinya. Pasalnya, setiap ruang tahanan dengan ukuran 1,5 x 2,5 meter yang dihuni 6-8 tahanan dan napi itu tak lagi menyisakan ruang untuk bisa memisahkan si mayat dari tubuh mereka. Beruntung, petugas lapas yang mendapat laporan segera memindahkan jenazah tahanan ke tempat lain.

Kepala Lapas Pemuda Tangerang Kosod Purwanto tak menampik fakta jenazah sempat berbaur dengan tahanan atau napi dalam satu kamar. "Tahanan yang sakit tak semua bisa dirawat di klinik atau di RSU Umum Tangerang karena di sana sudah penuh. Terpaksalah ia tetap berada di dalam sel," kata seorang petugas.

Kapasitas klinik lapas juga terbatas. Ruang rawat inap berkapasitas 20 pasien kini untuk merawat 40 orang.

Anggota Komisi I DPRD Banten, Tasril Jamal, Rabu (11/4), sempat melihat pasien sebagian tidur di atas ranjang, tetapi sebagian lagi ditidurkan di atas lantai beralas seperti karpet. "Ada lima pasien badannya kurus mirip tengkorak terbaring begitu saja. Mengapa keadaan itu dibiarkan?" kata Tasril.

Kompas melihat ruang tahanan yang sempit di Lapas Pemuda makin sempit oleh barang-barang milik penghuninya. Buntelan tas berisi baju atau makanan kiriman keluarga membuat daya gerak penghuni kian terbatas. Untuk masuk ke dalam ruangan harus beringsut-ingsut. Keadaan yang lembab memunculkan bau kurang sedap.

Halaman lapas yang tak terlalu luas tampak menjadi surga bagi penghuninya. Pada pagi dan sore hari mereka memenuhi halaman agar bisa menghirup udara segar dan menikmati sinar mentari sepuasnya.

Cuma 30 WC

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa seluruh ruang di Lapas Pemuda Tangerang sesak oleh tahanan dan napi. Begitu penuhnya isi rata-rata ruang tahanan sampai satu ruang tahanan yang pada zaman Belanda hanya diisi satu orang kini dijejali dua hingga tiga kali lipatnya. Amat jauh dari aturan pihak lapas sendiri, maksimal tiga orang.

Dari sisi sanitasi lingkungan, keadaan dalam lapas jauh dari memadai. Di lapas berpenghuni 3.600 sampai 3.800 orang (tergantung banyaknya tahanan titipan) hanya tersedia 30 kamar mandi dan WC. Terbayang betapa panjang antrean untuk bisa mandi atau sekadar buang air kecil. Pompa air terpaksa dioperasikan 24 jam sehingga sering rusak. Keadaan sangat tidak sehat ini memunculkan berbagai penyakit atas tahanan. Bagi yang sehat bisa saja lalu sakit. Dan bagi yang sudah sakit kondisi penyakitnya akan makin parah.

Melihat kondisi itu, Sekretaris Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Tingkat Nasional dr Nafsiah Mboi mengingatkan, membiarkan tahanan sakit berbaur dengan yang sehat tak boleh dilakukan, apalagi jika si sakit meninggal dunia. "Jika orang itu sakit hepatitis atau HIV, maka cairan di tubuhnya bisa masuk ke orang lain. Oleh sebab itu, petugas dan keluarga harus diberi tahu cara penanganan yang benar supaya mereka tak tertular," kata Nafsiah.

Telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) atas para tahanan di dalam lapas, tetapi petinggi negeri ini tak memedulikannya. (TRI)

ditulis oleh KOMPAS dalam kolom FOCUS

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/21/fokus/3469098.htm

0 komentar:

Posting Komentar